Austria, Negara Berpenduduk Tua yang Lincah dalam Teknologi

Oleh Lisa Esti Puji Hartanti
Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi University of Vienna

Foto suasana matahari terbenam di kota Vienna (doc. pribadi)

Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk. Ungkapan itu cocok untuk menggambarkan negara Republik Austria atau dalam bahasa Jerman Republik Österreich. Semakin berisi karena usianya yang tua dengan sebagaian besar usia penduduk tua, membuatnya semakin merunduk dengan tak berhenti belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia khususnya di bidang teknologi informasi.

Negara yang terletak di Eropa Tengah dan berbatasan langsung dengan Jerman, Ceko, Slovakia, Hungaria, Swiss, dan Liechtenstein ini ternyata memiliki usia yang tidak lebih tua dari Indonesia lho, yaitu 64 tahun, atau lebih muda 10 tahun. Karena Austria menjadikan tanggal 26 Oktober 1955 sebagai hari kemerdekaannya, yaitu saat negara ini mendeklarasikan diri sebagai negara yang netral. Hal ini dilakukan sebagai syarat dari negara sekutu yang mengambil alih negara Austria saat kekalahan Jerman pada Perang Dunia II.  

Gambar Peta Austria dan Provinsinya
Sumber: https://www.migration.gv.at/en/living-and-working-in-austria/austria-at-a-glance/geography-and-population

Selain itu, jika dilihat dari fakta lainnya, Austria memiliki jumlah penduduk 8,8 juta dengan 61,8 persen adalah penduduk berusia 20-64 tahun. Dari rentang usia tersebut sebagian besar adalah penduduk berusia 50-59 tahun. Banyaknya penduduk dari usia senior atau dalam era teknologi informasi terdapat istilah baby boomers (kelahiran 1946-1964) ini menjadikan Austria negara yang terbuka bagi orang muda. Contohnya, mereka sempat dipimpin oleh chancellor muda atau jabatan serupa perdana menteri yang berusia 33 tahun, dari tahun 2017-sekarang, bernama Sebastian Kurz. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Austria memiliki keterbukaan pikiran untuk mengikuti perubahan dari orang muda.

Keterbukaan juga terjadi pada ranah pengembangan sistem administrasi kependudukan yang berbasis teknologi digital, yang akan saya ulas dalam tulisan ini. Hal ini berdampak pada birokrasi yang tidak berbelit. Misalnya, mendaftarkan diri untuk mendapatkan kartu transportasi tahunan yang dapat dilakukan melalui website, surat menyurat terkait administrasi kependudukan dapat dilakukan melalui email, mendaftar residence permit yang cukup dilayani satu orang saja kemudian jika ada berkas yang kurang dapat dikirimkan lewat email, dan lain sebagainya.   

Berikut adalah beberapa hal utama yang dapat ditiru bagi masyarakat Indonesia dari negara yang menggunakan Bahasa Jerman sebagai bahasa harian ini.

  1. Pekerja administrasi berusia tua yang mau belajar dan bahkan fasih menggunakan teknologi.

Tentu saja, ini bukan sekedar menggunakan teknologi, tetapi mengubah budaya sehari-hari. Misalnya, budaya selalu menggunakan surat tercetak yang digantikan dengan softcopy. Saya pernah punya pengalaman ketika hendak mendaftar asuransi kesehatan, saya lupa membawa satu berkas, namun saya punya softcopy-nya. Pegawai yang tergolong berusia senior di tempat tersebut dengan fasihnya meminta saya untuk mengirimkan email, dan kemudian ia mencetakkan berkas saya. Dalam satu menit, semua urusan administrasi saya untuk pengajuan asuransi kesehatan beres.

Hampir semua urusan administrasi yang saya lakukan di Austria tidak memakan waktu lebih dari satu hari. Bahkan, hanya dalam hitungan menit, jika berkas yang saya bawa sudah lengkap, maka urusan pun selesai. Sehingga, efisien dan efektif, waktu tidak terbuang sia-sia, dan saya dapat melakukan pekerjaan lainnya di hari itu. Jika saya mengamati, prinsip mereka bekerja adalah, jika dapat dilakukan hari itu, mengapa harus ditunda esok hari. Karena dengan menunda pekerjaan, sama dengan halnya menambah pekerjaan untuk ke depannya.

  • Bekerja cepat selaras dengan karakteristik dari teknologi.

Saya juga mengamati para pekerja segala usia ini bekerja cepat, seperti karakteristik teknologi itu sendiri. Bahkan, saya pernah punya pengalaman ketika mengantri di kasir supermarket, saya ditegur oleh antrian belakang saya, karena lama mengeluarkan uang koin yang harus saya hitung dulu. Akhirnya, si kasir pun membantu saya menghitung. Kecepatan kasir tersebut menghitung barang lebih cepat daripada saya mengeluarkan uang dari dalam dompet. Bahkan, beberapa supermarket memberlakukan self-service untuk menghitung harga barangnya sendiri. Kerja cepat ini juga saya amati dalam setiap pelayanan yang saya dapatkan, baik di lingkungan umum, maupun di kampus. Mereka fokus bekerja dan menghargai waktu, alhasil jika kita datang lebih dari jam kerja yang ditentukan, mereka tidak akan melayani kita.

  • Kejelasan dan konsistensi informasi antara sistem online dengan offline.

Hal ini saya dapatkan dalam informasi terkait transportasi di Austria. Sistem transportasi di Austria, yang juga menjadi percontohan beberapa negara termasuk Indonesia, menggunakan teknologi berbasis aplikasi untuk memesan tiket, mencari informasi rute, memberitahukan informasi keterlambatan, program promosi, dan lain sebagainya. Seperti di Indonesia yang sudah menggunakan sistem aplikasi, kelebihan sistem di Austria adalah tidak adanya perbedaan informasi antara di aplikasi dengan di loket. Misalnya, ketika saya ingin membeli tiket kereta ke luar kota Wina, awalnya dengan mindset saya seperti di Indonesia, saya datang ke loket berharap siapa tahu mendapatkan harga yang murah daripada di aplikasi. Namun, yang terjadi pegawai loket tetap membuka website atau aplikasi yang serupa dengan di handphone saya, dan tidak ada perubahan harga sama sekali. Konsistensi yang ditampilkan di website, aplikasi, dan loket inilah yang membuat saya harus percaya apapun yang ditampilkan secara online, ternyata sama secara offline. Sehingga, tidak ada perbedaan kebijakan yang diterapkan. Tentu saja, saya melihat tidak ada antrian mengular di stasiun kereta api, dan tidak banyak kertas tiket dicetak, karena tinggal menunjukkan barcode dari e-ticket. Pegawai kereta pun mengecek tiket sudah dengan menggunakan handphone dengan men-scan barcode e-ticket kita. Sebagai informasi, para pekerja di loket dan di dalam kereta yang saya jumpai adalah pekerja berusia tua.

  • Integrasi data kependudukan dalam balutan teknologi.

Selain itu, integrasi data juga dapat dijadikan contoh bagi sistem di Indonesia, terutama data kependudukan. Tentu saja, pekerja yang mengoperasikannya dari segala usia. Contohnya, ketika saya akan mendaftarkan residence permit, salah satu syaratnya adalah kita telah memiliki asuransi kesehatan dari Austria. Saya bertanya, apakah perlu melampirkan bukti asuransi kesehatan, petugas administrasi mengatakan tidak perlu, karena ia dapat melihat di sistem, apakah saya sudah punya asuransi atau belum. Kemudian, data ini pun dikirimkan ke bagian-bagian yang relevan, seperti misalnya ke gereja, karena saya mencantumkan agama, maka saya pun mendapatkan surat dari gereja untuk dimintakan sumbangan tahunan. Namun, saya mengontak ke pengurus keuskupan (gereja) dan mengatakan bahwa saya adalah mahasiswa, dan mereka pun langsung membatalkan permintaan sumbangan tersebut, karena saya tidak memiliki pendapatan dengan pajak negara.  

Melek bidang teknologi informasi ini adalah salah satu bentuk peradaban yang maju dari sebuah negara. Tiap negara memiliki cara masing-masing dalam beradaptasi terhadap teknologi. Namun, hal yang patut dicontoh adalah bahwa sikap menerima dan mau belajar adalah kunci utama dalam beradaptasi untuk menjadi lebih maju. Kemudian, diimbangi dengan budaya literasi yang kuat, salah satunya adalah sikap kritis, sehingga menggunakan teknologi karena mempunyai tujuan dan manfaatnya. Sikap kritis ini salah satunya dibangun dari budaya suka membaca. Tak jarang saya menemukan warga yang membaca koran, buku, e-book, di dalam transportasi umum.  

Untuk mengadopsi teknologi ini bukanlah hal yang mudah, karena terkait dengan adopsi budaya baru. Maka, perlu bagian khusus yang mengurusi hal ini. Pemerintah Austria pun memiliki kementerian khusus bidang inovasi dan teknologi atau disebut Federal Ministry for Transport, Innovation, and Technology. Bahkan, Austria menjadi negara teratas di Eropa terkait teknologi, inovasi, termasuk penelitian. Begitu pula di universitas tempat saya belajar, yaitu Unversity of Vienna memiliki wakil rektor bidang digitalisation and knowledge transfer, yang membuat sistem digitalisasi terintegrasi di dalam universitas. Dengan bagian yang khusus ini, akan lebih fokus mengurusi A-Z terkait konsep integrasi teknologi informasi. Termasuk isu yang muncul dalam penggunaan teknologi informasi yaitu sekuritas. Austria pun memiliki strategi terkait Cyber Security yang tertuang di dalam dokumen Austrian Cyber Security.  

Maka, berdasarkan ulasan singkat ini, ada beberapa karakteristik sikap dasar yang dapat dipelajari bagi masyarakat Indonesia terkait adopsi teknologi informasi, yaitu memiliki:

  1. Pikiran dan sikap terbuka terhadap perubahan. Jalani dulu perubahan yang ada, bukan komplain terlebih dahulu.
  2. Sikap tidak suka menunda. Jika dapat diselesaikan hari ini, mengapa harus menunda hingga esok hari. Maka, bekerja dengan efisien dan efektif.
  3. Tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun juga orang lain. Sehingga, ketika melakukan pelayanan, mengusahakan sebaik mungkin urusan orang lain dapat terselesaikan. Maka, jarang saya temukan lempar pekerjaan sana sini, karena dengan satu orang dapat membantu menyelesaikan permintaan. Hal ini adalah karakteristik sebagai seorang warga negara yang baik.
  4. Kemampuan berpikir kritis. Caranya, dengan banyak membaca bacaan yang bermanfaat agar kita tidak dimanfaatkan oleh teknologi. Namun sebaliknya, kita dapat mengoptimalisasi penggunaan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia.
  5. Sikap mandiri tidak terlalu tergantung dengan orang lain. Sehingga, jika dapat diselesaikan sendiri mengapa harus menunggu orang lain. 

Semua hal yang dipaparkan dalam tulisan ini, bukanlah sesuatu yang mustahil. Kita dapat melakukannya dengan kemauan dan pikiran terbuka, tanpa mengeluh, dan memiliki sikap mandiri. Semoga artikel ini dapat menghantarkan kita menuju peradaban manusia Indonesia yang maju.

Referensi:
https://www.statistik.at/web_de/statistiken/menschen_und_gesellschaft/bevoelkerung/index.html
https://www.worldometers.info/demographics/austria-demographics/
https://ostaustria.org/bridges-magazine/volume-37-may-15-2013/item/8102-research-technology-and-innovation-evaluation-in-austria

Catatan:

Tulisan sudah dipublikasi pada buku PPI Dunia (2019) berjudul “Diplomasi Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H

Dalam setiap langkah kehidupan terkadang ada persaingan, perselisihan, prasangka dan banyak hal-hal laing yang membuat sesama kita menjadi renggang, oleh sebab itu kami segenap pengurus PPI Austria 2020 mengucapakan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Mohon maaf lahir dan bathin atas segala khilaf dalam prasangka, perkataan dan perbuatan. Semoga amal ibadah kita selama bulan ramadhan khususnya diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Aamiin.

Keutamaan Diri Manusia Austria

Oleh Lisa Esti Puji Hartanti – Mahasiswa S3 Departemen Komunikasi, University of Vienna

Perpustakaan Nasional terbesar di Austria yang berdiri tahun 1368 dan menampung 12 juta koleksi buku, sebagai salah satu ikon kota Wina.

Jika di Indonesia kita diajarkan untuk selalu mengucapkan tiga kata utama yaitu terima kasih, maaf, dan minta tolong. Sama halnya, ketika saya berada di Wina, Austria, tiga kata tersebut juga selalu muncul di tempat umum. Namun untuk kata minta tolong baru muncul ketika mereka sudah benar-benar tidak dapat mengerjakan sendiri. Hal ini dikarenakan karakter warga Austria yang mandiri.

Berikut, beberapa keutamaan diri manusia Austria, yang saya temukan di tempat umum, dan dapat kita contoh. Keutamaan ini tidak datang dengan sendirinya, namun dilatih dari sejak kecil oleh lingkungan seperti keluarga, dan sekolah.

Pertama, mereka terbiasa mengucapkan kata maaf atau dalam bahasa Jerman “Entschuldigung”. Ketika kita berada di tempat umum yang banyak orangnya, jika ada yang tidak sengaja bersentuhan, maka mereka akan selalu bilang minta maaf. Bahkan, jika yang salah bukan mereka, namun mereka akan duluan meminta maaf, sehingga membuat saya merasa bersalah.

Kata “Entschuldigung” dapat pula berarti permisi. Hal ini, sering terjadi di kendaraan umum. Ketika mereka akan turun duluan, dan saya menghalangi jalan, mereka akan selalu bilang permisi. Begitu pula sebaliknya, jika saya yang turun duluan, maka mereka akan selalu mempersilakan kita. Bahkan, mereka tak segan untuk berdiri dan mempersilakan saya untuk jalan, jika tempatnya sempit.     

Trem dan suasana warga yang menunggu

Kedua, pintu-pintu gedung di Austria ini kebanyakan tidak otomatis terbuka, melainkan pintu besi yang besar dan butuh didorong serta ditarik untuk dibuka. Keutamaan yang mengagumkan buat saya adalah ketika mereka membuka pintu, dan mengetahui ada saya di belakangnya. Maka, mereka juga akan membukakan pintu untuk saya. Bahkan, mereka mau menunggu, hingga saya masuk, dan kemudian menutup pintunya. Waw.. dan saya hanya dapat mengucapkan kata terima kasih ditambah dengan senyum yang lebar.

Bahkan, saya pernah lari tergopoh-gopoh karena mengejar trem (kendaraan umum untuk menghubungkan antartempat yang tidak dilalui kereta bawah tanah), kemudian orang yang sudah di dalam, membuka pintu trem dan menahannya untuk saya, supaya saya dapat segera masuk, dan tidak ketinggalan trem. Sekali lagi, saya hanya dapat mengucapkan kata “danke” atau terima kasih.

Ketiga, kata “Danke” atau terima kasih adalah kata yang selalu saya dengar di tempat umum. Misalnya, setelah belanja mengucapkan kata terima kasih kepada kasir, turun dari trem mengucapkan terima kasih kepada supir trem, dan lain sebagainya. Kata ini diberikan tidak hanya untuk sesuatu yang mereka dapatkan ketika diberi oleh orang lain, tetapi juga untuk menghargai jasa orang lain yang menolong banyak orang, misalnya kasir, supir, penjual makanan, dan lain-lain.

Suasana di salah satu supermarket.

Keempat, budaya mengantri dan bahkan mempersilakan kita untuk duluan, sehingga tidak ada kata berebutan. Saya pernah terburu-buru untuk pergi ke kampus, dan setelah naik kereta bawah tanah, kita harus naik tangga, dan dengan rapi berjejer ke belakang untuk mengantri. Ketika, mereka tahu saya berjalan agak cepat berarti sedang terburu-buru, maka dengan tangan terbuka, mereka mempersilakan saya untuk duluan jalan dan mengantri. Hal ini, sangat membantu sekali, dan mereka pun juga akan berpikir, ketika dalam keadaan terburu-buru seperti saya, mereka akan mengharapkan ada yang mempersilakan mereka untuk duluan. Maka ini, mereka lakukan juga untuk orang lain.  

Kelima, warga Austria akan sangat menjaga volume suara berbicara ketika di tempat umum karena mereka tidak ingin menganggu orang lain. Tempat umum adalah tempat bersama, maka semua orang memiliki hak yang sama untuk berbicara. Sehingga, untuk sama-sama saling menghargai, mereka berbicara dengan volume suara yang tidak berlebihan, misalnya, tertawa, atau menelpon. Begitu pula, ketika saya berbicara dengan teman, jika volume suara berlebihan, mereka tidak segan akan menegur saya langsung secara lisan, atau dengan bahasa non-verbal yang tidak nyaman. Saya pun harus menyadari itu dan mengucapkan minta maaf serta mengurangi volume suara.

Keenam, mengucapkan kata Hi atau Halo kepada siapa pun yang bahkan belum mereka kenal, namun di lingkungan yang sama, misalnya di kampus, dan asrama. Biasanya, ketika kita belum mengenal orang tersebut, kita enggan untuk mengucapkan sapaan terlebih dulu. Tetapi kita lebih memilih untuk diam seribu bahasa dan menunggu siapa duluan yang menyapa atau mengajak kenalan. Hal ini tidak terjadi dengan warga Austria, mereka akan menyapa kita duluan dengan kata Hi dan Halo. Setelahnya, kita sebaiknya menyambut dan bertanya lebih lanjut, terkait nama, tempat tinggal, dan profesi. Namuan, harap diperhatikan, karena mereka sangat mengutakan privasi, maka sebaiknya pertanyaan tidak menjurus ke hal pribadi, seperti pasangan hidup, dan keluarga. Namun, kata sapa Hi atau Halo ditambah senyuman ini saja sudah mampu membuat kehangatan.

Oya, orang Austria khususnya yang muda, rata-rata mereka dapat berbahasa Inggris dengan baik. Jadi jangan takut untuk berbicara jika kita tidak dapat berbahasa Jerman.

Ketujuh, warga Austria sangat menghormati privasi, sehingga hati-hati jika mau memotret foto dan mengunggah ke media sosial. Karena sebagai warga Indonesia, kita akan dengan mudah memotret orang di tempat umum, kemudian mengunggah ke media sosial. Di Austria, kita harus mendapatkan izin dari orang yang ada di foto ketika akan mempublikasikannya. Namun, jika hanya untuk koleksi pribadi, tidak perlu meminta izin. Hal ini terjadi pada saya, ketika akan memotret kondisi di perpustakaan di University of Vienna, petugasnya melarang saya, karena di dalam perpustakaan tersebut terdapat banyak mahasiswa yang kita tidak tahu apakah mereka berkenan untuk dipublikasikan atau tidak. Kecuali, jika saya hanya ingin memotret suasana bangunannya, itu diperbolehkan. Begitu pula, ketika di kelas, kebiasaan memotret materi presentasi dosen tidak terjadi di Austria, kebanyakan mereka mencatat. Karena, jika memotret, akan menyalahi privasi dosen, pertama, wajahnya, kedua, materinya. Jika materi diizinkan untuk dibagi, dosen tersebut akan bilang, materi akan dikirimkan melalui email.

Suasana perpustakaan yang tetap saya foto, tetapi berdalih bahwa muka mereka tidak terlihat jelas.

Paling tidak itu adalah tujuh keutamaan diri manusia Austria yang saya rekam selama saya tinggal enam bulan di Wina, dan dimungkinkan akan bertambah ke depannya. Keutamaan sikap ini membuat saya merasakan sebagai manusia yang dihargai dan diterima, padahal saya terlihat sangat jelas bukan warga asli Austria.

Pada dasarnya, semua keutamaan sikap ini dapat kita temukan dimana-mana termasuk di Indonesia. Hanya saja, kadarnya yang berbeda-beda. Karena, keutamaan itu saya temukan pada hampir semua warga Austria dan ada beberapa hal yang tidak saya temukan di Indonesia, seperti budaya antri, atau di beberapa negara lainnya sekitar Austria.

Setiap negara punya keunikan masing-masing terhadap keutamaan diri yang dihidupi. Hal ini, tergantung pada budaya dan norma yang berlaku di tempat tersebut. Tetapi pada dasarnya, semua manusia di dunia punya satu dasar yang sama yaitu kemanusiaan, seperti sikap menghormati, menghargai, dan kasih sayang. Karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak bisa tidak berkomunikasi dan menjalin hubungan antar sesama manusia.  

Kebiasaan dan Pertanyaan yang Terjawab

Oleh Khairul Anam

Awal bulan Oktober tahun 2019, aku berangkat ke Austria dalam rangka melanjutkan studi. Sebuah pengalaman baru membentang di depan mata. Tidak hanya kehidupan kampus, tetapi juga kehidupan sosial yang berbeda dengan di Indonesia, salah satunya alat transportasi umum. Ada 3 jenis alat transportasi umum yang menjadi pilihan utama, yaitu bus, trem dan kereta. Biasanya aku memakai trem ke Kagraner Platz, kemudian pindah ke kereta menuju Karlsplatz. Jika pulang larut sampai melebihi jam terakhir trem beroperasi, aku menaiki bus malam.

Singkat kata singkat cerita, setelah dua bulan berjalan, rute di atas sudah menjadi sebuah kebiasaan yang tertanam di alam bawah sadar. Sepuluh stasiun dari Kagraner Platz ke Karlsplatz ditempuh selama 14 menit, cukup untuk membaca 3 – 5 bab novel atau 10 – 15 level Brain Out. Dilanjutkan dengan berjalan kaki ke kampus sekitar 7 menit sambil menghirup bau roti yang baru keluar dari oven di Strock, kemudian menyapa tukang penjual koran di jalan bawah tanah menuju Secession. “Good morning, have a nice day”, sebuah frasa yang selalu diucapkan. Menyenangkan sekali!

Begitu juga sebaliknya, saat pulang dari kampus, Aku berjalan kaki lagi menuju Karlsplatz dengan suasana yang berbeda. Menghirup bau tanah yang terkena hujan, melihat orang lalu lalang mengejar bis, orang memakai skuter dan sepeda juga tidak sedikit, sekali melihat salju yang jatuh perlahan dengan menahan dingin karena cuaca menurun dan berangin. Romantis!

Di awal Desember, kebiasaan yang sudah terbangun harus berubah karena cuaca yang semakin dingin. Sebisa mungkin untuk tidak lama berada di luar. Rute baru adalah opsi yang masuk akal meskipun waktu yang dibutuhkan lebih lama. Paling sedikit selisih waktunya 1 menit, waktu yang dibutuhkan untuk pindah platform dan menunggu kereta. Rute baru ini adalah dengan naik kereta dari Karlsplatz ke Museumsquartier. Cukup 1 stasiun saja. Dari Museumsquartier ke kampus hanya butuh waktu 3 menit.

Pertama kali berangkat melalui rute ini sama sekali tidak ada masalah. Semua berjalan sesuai rencana. Namun, masalah muncul saat pulang dari kampus. Kebiasaan yang sudah tertanam menuntun tangan dan mata untuk membaca setiap kali masuk ke kereta. Entah itu duduk jika ada kursi kosong maupun berdiri saja di dekat pintu. Sepuluh stasiun selama 14 menit terlintas begitu saja. Dengan tidak menghiraukan pengumuman di kereta bahwa pemberhentian selanjutnya adalah Karlsplatz, kukira itu adalah Stephanplatz, satu stasiun setelah Karlsplatz menuju Kagraner Platz. Aku diam tak beranjak sambil terus membaca. Pintu kereta ditutup kembali, sesaat kemudian tidak ada suara yang menunjukkan pemberitahuan selanjutnya, kemudian mesin kereta api juga dimatikan. Saat itu juga aku sadar bahwa aku melewati pemberhentian terakhir, yaitu Karlsplatz. What? Bingung sambil berlari menuju ke pintu kereta namun semua pintu terkunci. Di luar sepi hanya terlihat dinding-dinding bawah tanah dengan sorotan lampu yang cukup terang. Sambil berusaha menenangkan diri, aku memotret bagian-bagian gerbong kereta. Kutemukan sebuah tulisan “LW Haltepunkt” yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi “Berhenti”. Setelah beberapa menit berada dalam situasi panik, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Aku sadar bahwa itu adalah suara sopir kereta yang keluar. Si sopir melangkah perlahan ke arah belakang. Sampai di gerbong ketiga, tempatku terjebak, si sopir kaget melihatku. Dan kubalas dengan senyuman sambil mengucapkan mengucapkan “Hallo”. Alih-alih menjawab sapaanku, si sopir tadi hanya memberikan kode OK dengan tangannya. Hatiku mulai sedikit tenang karenanya. Tiga menit setelah sopir melewati gerbong 3, mesin kereta hidup kembali dan mulai berjalan ke arah Karlsplatz. Lega rasanya, tetapi malu saat keluar gerbong. Aku menunduk melewati kumpulan orang-orang yang akan naik ke dalam kereta.. Sambil menunggu kereta dari Karlsplatz menuju Kagraner Platz, pikiranku mengingat-ingat kembali pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama tinggal di Austria. Salah satunya, “Bagaimana cara kereta dalam kota berputar kea rah sebaliknya?” Kini terjawab sudah.

What We Learned from the Movie Night

Oleh Yusfan Adeputra

Malam Minggu malam yang panjang Malam yang asyik buat pacaran…
Sepenggal lagu Jamal Mirdad ini kayaknya ga berlaku deh buat kita-kita yang malam Minggu kemaren (21/3) menghabiskan waktu dengan komunitas MoViennachters.

Ini merupakan salah satu program PPI tahun ini sebagai ajang hiburan sekaligus kumpul-kenal (silaturahim) antar pelajar-pemuda seantero Austria. Harapannya juga dari konten yang diputar, bisa kita petik pelajaran di dalamnya.

Nah, yang kemarin itu acaranya diadakan mulai jam 4 sore sampai 8 malam di Ruang Nusantara KBRI dengan mengundang elemen pemuda dan pelajar seantero Austria. Film yang diputar sebenarnya adalah Whiplash. Nah menariknya, saat projector and sound testing, panitia muterin film Penguins of Madagascar. Eh, malah penonton yang hadir berseru ‘diterusin aja filmnya‘ karena kelucuan penguin-penguin itu ternyata menghadirkan canda tawa penonton. Walhasil, Film Penguins pun diputar hingga selesai jam 6 pm.

Saat break, panitia sedikit menghaturkan sepatah kata tentang acara sekaligus menjadi ajang perkenalan bagi penonton yang hadir. Kemudian acara pun dilanjutkan dengan pemutaran film inti yaitu Whiplash. Tak dinyana, saat pemutaran film berlangsung semakin banyak penonton yang datang turut meramaikan.

Film Whiplash sendiri dipilih karena terdapat beberapa pesan moral bagi kita utamanya untuk terus bekerja keras demi menggapai cita-cita. Seperti katanya opa Collin Powell, ‘A dream doesn’t become reality through magic, it takes sweat, determination and hard work’.