Oleh Lisa Esti Puji Hartanti
Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi University of Vienna

Foto suasana matahari terbenam di kota Vienna (doc. pribadi)

Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk. Ungkapan itu cocok untuk menggambarkan negara Republik Austria atau dalam bahasa Jerman Republik Österreich. Semakin berisi karena usianya yang tua dengan sebagaian besar usia penduduk tua, membuatnya semakin merunduk dengan tak berhenti belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia khususnya di bidang teknologi informasi.

Negara yang terletak di Eropa Tengah dan berbatasan langsung dengan Jerman, Ceko, Slovakia, Hungaria, Swiss, dan Liechtenstein ini ternyata memiliki usia yang tidak lebih tua dari Indonesia lho, yaitu 64 tahun, atau lebih muda 10 tahun. Karena Austria menjadikan tanggal 26 Oktober 1955 sebagai hari kemerdekaannya, yaitu saat negara ini mendeklarasikan diri sebagai negara yang netral. Hal ini dilakukan sebagai syarat dari negara sekutu yang mengambil alih negara Austria saat kekalahan Jerman pada Perang Dunia II.  

Gambar Peta Austria dan Provinsinya
Sumber: https://www.migration.gv.at/en/living-and-working-in-austria/austria-at-a-glance/geography-and-population

Selain itu, jika dilihat dari fakta lainnya, Austria memiliki jumlah penduduk 8,8 juta dengan 61,8 persen adalah penduduk berusia 20-64 tahun. Dari rentang usia tersebut sebagian besar adalah penduduk berusia 50-59 tahun. Banyaknya penduduk dari usia senior atau dalam era teknologi informasi terdapat istilah baby boomers (kelahiran 1946-1964) ini menjadikan Austria negara yang terbuka bagi orang muda. Contohnya, mereka sempat dipimpin oleh chancellor muda atau jabatan serupa perdana menteri yang berusia 33 tahun, dari tahun 2017-sekarang, bernama Sebastian Kurz. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Austria memiliki keterbukaan pikiran untuk mengikuti perubahan dari orang muda.

Keterbukaan juga terjadi pada ranah pengembangan sistem administrasi kependudukan yang berbasis teknologi digital, yang akan saya ulas dalam tulisan ini. Hal ini berdampak pada birokrasi yang tidak berbelit. Misalnya, mendaftarkan diri untuk mendapatkan kartu transportasi tahunan yang dapat dilakukan melalui website, surat menyurat terkait administrasi kependudukan dapat dilakukan melalui email, mendaftar residence permit yang cukup dilayani satu orang saja kemudian jika ada berkas yang kurang dapat dikirimkan lewat email, dan lain sebagainya.   

Berikut adalah beberapa hal utama yang dapat ditiru bagi masyarakat Indonesia dari negara yang menggunakan Bahasa Jerman sebagai bahasa harian ini.

  1. Pekerja administrasi berusia tua yang mau belajar dan bahkan fasih menggunakan teknologi.

Tentu saja, ini bukan sekedar menggunakan teknologi, tetapi mengubah budaya sehari-hari. Misalnya, budaya selalu menggunakan surat tercetak yang digantikan dengan softcopy. Saya pernah punya pengalaman ketika hendak mendaftar asuransi kesehatan, saya lupa membawa satu berkas, namun saya punya softcopy-nya. Pegawai yang tergolong berusia senior di tempat tersebut dengan fasihnya meminta saya untuk mengirimkan email, dan kemudian ia mencetakkan berkas saya. Dalam satu menit, semua urusan administrasi saya untuk pengajuan asuransi kesehatan beres.

Hampir semua urusan administrasi yang saya lakukan di Austria tidak memakan waktu lebih dari satu hari. Bahkan, hanya dalam hitungan menit, jika berkas yang saya bawa sudah lengkap, maka urusan pun selesai. Sehingga, efisien dan efektif, waktu tidak terbuang sia-sia, dan saya dapat melakukan pekerjaan lainnya di hari itu. Jika saya mengamati, prinsip mereka bekerja adalah, jika dapat dilakukan hari itu, mengapa harus ditunda esok hari. Karena dengan menunda pekerjaan, sama dengan halnya menambah pekerjaan untuk ke depannya.

  • Bekerja cepat selaras dengan karakteristik dari teknologi.

Saya juga mengamati para pekerja segala usia ini bekerja cepat, seperti karakteristik teknologi itu sendiri. Bahkan, saya pernah punya pengalaman ketika mengantri di kasir supermarket, saya ditegur oleh antrian belakang saya, karena lama mengeluarkan uang koin yang harus saya hitung dulu. Akhirnya, si kasir pun membantu saya menghitung. Kecepatan kasir tersebut menghitung barang lebih cepat daripada saya mengeluarkan uang dari dalam dompet. Bahkan, beberapa supermarket memberlakukan self-service untuk menghitung harga barangnya sendiri. Kerja cepat ini juga saya amati dalam setiap pelayanan yang saya dapatkan, baik di lingkungan umum, maupun di kampus. Mereka fokus bekerja dan menghargai waktu, alhasil jika kita datang lebih dari jam kerja yang ditentukan, mereka tidak akan melayani kita.

  • Kejelasan dan konsistensi informasi antara sistem online dengan offline.

Hal ini saya dapatkan dalam informasi terkait transportasi di Austria. Sistem transportasi di Austria, yang juga menjadi percontohan beberapa negara termasuk Indonesia, menggunakan teknologi berbasis aplikasi untuk memesan tiket, mencari informasi rute, memberitahukan informasi keterlambatan, program promosi, dan lain sebagainya. Seperti di Indonesia yang sudah menggunakan sistem aplikasi, kelebihan sistem di Austria adalah tidak adanya perbedaan informasi antara di aplikasi dengan di loket. Misalnya, ketika saya ingin membeli tiket kereta ke luar kota Wina, awalnya dengan mindset saya seperti di Indonesia, saya datang ke loket berharap siapa tahu mendapatkan harga yang murah daripada di aplikasi. Namun, yang terjadi pegawai loket tetap membuka website atau aplikasi yang serupa dengan di handphone saya, dan tidak ada perubahan harga sama sekali. Konsistensi yang ditampilkan di website, aplikasi, dan loket inilah yang membuat saya harus percaya apapun yang ditampilkan secara online, ternyata sama secara offline. Sehingga, tidak ada perbedaan kebijakan yang diterapkan. Tentu saja, saya melihat tidak ada antrian mengular di stasiun kereta api, dan tidak banyak kertas tiket dicetak, karena tinggal menunjukkan barcode dari e-ticket. Pegawai kereta pun mengecek tiket sudah dengan menggunakan handphone dengan men-scan barcode e-ticket kita. Sebagai informasi, para pekerja di loket dan di dalam kereta yang saya jumpai adalah pekerja berusia tua.

  • Integrasi data kependudukan dalam balutan teknologi.

Selain itu, integrasi data juga dapat dijadikan contoh bagi sistem di Indonesia, terutama data kependudukan. Tentu saja, pekerja yang mengoperasikannya dari segala usia. Contohnya, ketika saya akan mendaftarkan residence permit, salah satu syaratnya adalah kita telah memiliki asuransi kesehatan dari Austria. Saya bertanya, apakah perlu melampirkan bukti asuransi kesehatan, petugas administrasi mengatakan tidak perlu, karena ia dapat melihat di sistem, apakah saya sudah punya asuransi atau belum. Kemudian, data ini pun dikirimkan ke bagian-bagian yang relevan, seperti misalnya ke gereja, karena saya mencantumkan agama, maka saya pun mendapatkan surat dari gereja untuk dimintakan sumbangan tahunan. Namun, saya mengontak ke pengurus keuskupan (gereja) dan mengatakan bahwa saya adalah mahasiswa, dan mereka pun langsung membatalkan permintaan sumbangan tersebut, karena saya tidak memiliki pendapatan dengan pajak negara.  

Melek bidang teknologi informasi ini adalah salah satu bentuk peradaban yang maju dari sebuah negara. Tiap negara memiliki cara masing-masing dalam beradaptasi terhadap teknologi. Namun, hal yang patut dicontoh adalah bahwa sikap menerima dan mau belajar adalah kunci utama dalam beradaptasi untuk menjadi lebih maju. Kemudian, diimbangi dengan budaya literasi yang kuat, salah satunya adalah sikap kritis, sehingga menggunakan teknologi karena mempunyai tujuan dan manfaatnya. Sikap kritis ini salah satunya dibangun dari budaya suka membaca. Tak jarang saya menemukan warga yang membaca koran, buku, e-book, di dalam transportasi umum.  

Untuk mengadopsi teknologi ini bukanlah hal yang mudah, karena terkait dengan adopsi budaya baru. Maka, perlu bagian khusus yang mengurusi hal ini. Pemerintah Austria pun memiliki kementerian khusus bidang inovasi dan teknologi atau disebut Federal Ministry for Transport, Innovation, and Technology. Bahkan, Austria menjadi negara teratas di Eropa terkait teknologi, inovasi, termasuk penelitian. Begitu pula di universitas tempat saya belajar, yaitu Unversity of Vienna memiliki wakil rektor bidang digitalisation and knowledge transfer, yang membuat sistem digitalisasi terintegrasi di dalam universitas. Dengan bagian yang khusus ini, akan lebih fokus mengurusi A-Z terkait konsep integrasi teknologi informasi. Termasuk isu yang muncul dalam penggunaan teknologi informasi yaitu sekuritas. Austria pun memiliki strategi terkait Cyber Security yang tertuang di dalam dokumen Austrian Cyber Security.  

Maka, berdasarkan ulasan singkat ini, ada beberapa karakteristik sikap dasar yang dapat dipelajari bagi masyarakat Indonesia terkait adopsi teknologi informasi, yaitu memiliki:

  1. Pikiran dan sikap terbuka terhadap perubahan. Jalani dulu perubahan yang ada, bukan komplain terlebih dahulu.
  2. Sikap tidak suka menunda. Jika dapat diselesaikan hari ini, mengapa harus menunda hingga esok hari. Maka, bekerja dengan efisien dan efektif.
  3. Tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun juga orang lain. Sehingga, ketika melakukan pelayanan, mengusahakan sebaik mungkin urusan orang lain dapat terselesaikan. Maka, jarang saya temukan lempar pekerjaan sana sini, karena dengan satu orang dapat membantu menyelesaikan permintaan. Hal ini adalah karakteristik sebagai seorang warga negara yang baik.
  4. Kemampuan berpikir kritis. Caranya, dengan banyak membaca bacaan yang bermanfaat agar kita tidak dimanfaatkan oleh teknologi. Namun sebaliknya, kita dapat mengoptimalisasi penggunaan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia.
  5. Sikap mandiri tidak terlalu tergantung dengan orang lain. Sehingga, jika dapat diselesaikan sendiri mengapa harus menunggu orang lain. 

Semua hal yang dipaparkan dalam tulisan ini, bukanlah sesuatu yang mustahil. Kita dapat melakukannya dengan kemauan dan pikiran terbuka, tanpa mengeluh, dan memiliki sikap mandiri. Semoga artikel ini dapat menghantarkan kita menuju peradaban manusia Indonesia yang maju.

Referensi:
https://www.statistik.at/web_de/statistiken/menschen_und_gesellschaft/bevoelkerung/index.html
https://www.worldometers.info/demographics/austria-demographics/
https://ostaustria.org/bridges-magazine/volume-37-may-15-2013/item/8102-research-technology-and-innovation-evaluation-in-austria

Catatan:

Tulisan sudah dipublikasi pada buku PPI Dunia (2019) berjudul “Diplomasi Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *