Keutamaan Diri Manusia Austria

Oleh Lisa Esti Puji Hartanti – Mahasiswa S3 Departemen Komunikasi, University of Vienna

Perpustakaan Nasional terbesar di Austria yang berdiri tahun 1368 dan menampung 12 juta koleksi buku, sebagai salah satu ikon kota Wina.

Jika di Indonesia kita diajarkan untuk selalu mengucapkan tiga kata utama yaitu terima kasih, maaf, dan minta tolong. Sama halnya, ketika saya berada di Wina, Austria, tiga kata tersebut juga selalu muncul di tempat umum. Namun untuk kata minta tolong baru muncul ketika mereka sudah benar-benar tidak dapat mengerjakan sendiri. Hal ini dikarenakan karakter warga Austria yang mandiri.

Berikut, beberapa keutamaan diri manusia Austria, yang saya temukan di tempat umum, dan dapat kita contoh. Keutamaan ini tidak datang dengan sendirinya, namun dilatih dari sejak kecil oleh lingkungan seperti keluarga, dan sekolah.

Pertama, mereka terbiasa mengucapkan kata maaf atau dalam bahasa Jerman “Entschuldigung”. Ketika kita berada di tempat umum yang banyak orangnya, jika ada yang tidak sengaja bersentuhan, maka mereka akan selalu bilang minta maaf. Bahkan, jika yang salah bukan mereka, namun mereka akan duluan meminta maaf, sehingga membuat saya merasa bersalah.

Kata “Entschuldigung” dapat pula berarti permisi. Hal ini, sering terjadi di kendaraan umum. Ketika mereka akan turun duluan, dan saya menghalangi jalan, mereka akan selalu bilang permisi. Begitu pula sebaliknya, jika saya yang turun duluan, maka mereka akan selalu mempersilakan kita. Bahkan, mereka tak segan untuk berdiri dan mempersilakan saya untuk jalan, jika tempatnya sempit.     

Trem dan suasana warga yang menunggu

Kedua, pintu-pintu gedung di Austria ini kebanyakan tidak otomatis terbuka, melainkan pintu besi yang besar dan butuh didorong serta ditarik untuk dibuka. Keutamaan yang mengagumkan buat saya adalah ketika mereka membuka pintu, dan mengetahui ada saya di belakangnya. Maka, mereka juga akan membukakan pintu untuk saya. Bahkan, mereka mau menunggu, hingga saya masuk, dan kemudian menutup pintunya. Waw.. dan saya hanya dapat mengucapkan kata terima kasih ditambah dengan senyum yang lebar.

Bahkan, saya pernah lari tergopoh-gopoh karena mengejar trem (kendaraan umum untuk menghubungkan antartempat yang tidak dilalui kereta bawah tanah), kemudian orang yang sudah di dalam, membuka pintu trem dan menahannya untuk saya, supaya saya dapat segera masuk, dan tidak ketinggalan trem. Sekali lagi, saya hanya dapat mengucapkan kata “danke” atau terima kasih.

Ketiga, kata “Danke” atau terima kasih adalah kata yang selalu saya dengar di tempat umum. Misalnya, setelah belanja mengucapkan kata terima kasih kepada kasir, turun dari trem mengucapkan terima kasih kepada supir trem, dan lain sebagainya. Kata ini diberikan tidak hanya untuk sesuatu yang mereka dapatkan ketika diberi oleh orang lain, tetapi juga untuk menghargai jasa orang lain yang menolong banyak orang, misalnya kasir, supir, penjual makanan, dan lain-lain.

Suasana di salah satu supermarket.

Keempat, budaya mengantri dan bahkan mempersilakan kita untuk duluan, sehingga tidak ada kata berebutan. Saya pernah terburu-buru untuk pergi ke kampus, dan setelah naik kereta bawah tanah, kita harus naik tangga, dan dengan rapi berjejer ke belakang untuk mengantri. Ketika, mereka tahu saya berjalan agak cepat berarti sedang terburu-buru, maka dengan tangan terbuka, mereka mempersilakan saya untuk duluan jalan dan mengantri. Hal ini, sangat membantu sekali, dan mereka pun juga akan berpikir, ketika dalam keadaan terburu-buru seperti saya, mereka akan mengharapkan ada yang mempersilakan mereka untuk duluan. Maka ini, mereka lakukan juga untuk orang lain.  

Kelima, warga Austria akan sangat menjaga volume suara berbicara ketika di tempat umum karena mereka tidak ingin menganggu orang lain. Tempat umum adalah tempat bersama, maka semua orang memiliki hak yang sama untuk berbicara. Sehingga, untuk sama-sama saling menghargai, mereka berbicara dengan volume suara yang tidak berlebihan, misalnya, tertawa, atau menelpon. Begitu pula, ketika saya berbicara dengan teman, jika volume suara berlebihan, mereka tidak segan akan menegur saya langsung secara lisan, atau dengan bahasa non-verbal yang tidak nyaman. Saya pun harus menyadari itu dan mengucapkan minta maaf serta mengurangi volume suara.

Keenam, mengucapkan kata Hi atau Halo kepada siapa pun yang bahkan belum mereka kenal, namun di lingkungan yang sama, misalnya di kampus, dan asrama. Biasanya, ketika kita belum mengenal orang tersebut, kita enggan untuk mengucapkan sapaan terlebih dulu. Tetapi kita lebih memilih untuk diam seribu bahasa dan menunggu siapa duluan yang menyapa atau mengajak kenalan. Hal ini tidak terjadi dengan warga Austria, mereka akan menyapa kita duluan dengan kata Hi dan Halo. Setelahnya, kita sebaiknya menyambut dan bertanya lebih lanjut, terkait nama, tempat tinggal, dan profesi. Namuan, harap diperhatikan, karena mereka sangat mengutakan privasi, maka sebaiknya pertanyaan tidak menjurus ke hal pribadi, seperti pasangan hidup, dan keluarga. Namun, kata sapa Hi atau Halo ditambah senyuman ini saja sudah mampu membuat kehangatan.

Oya, orang Austria khususnya yang muda, rata-rata mereka dapat berbahasa Inggris dengan baik. Jadi jangan takut untuk berbicara jika kita tidak dapat berbahasa Jerman.

Ketujuh, warga Austria sangat menghormati privasi, sehingga hati-hati jika mau memotret foto dan mengunggah ke media sosial. Karena sebagai warga Indonesia, kita akan dengan mudah memotret orang di tempat umum, kemudian mengunggah ke media sosial. Di Austria, kita harus mendapatkan izin dari orang yang ada di foto ketika akan mempublikasikannya. Namun, jika hanya untuk koleksi pribadi, tidak perlu meminta izin. Hal ini terjadi pada saya, ketika akan memotret kondisi di perpustakaan di University of Vienna, petugasnya melarang saya, karena di dalam perpustakaan tersebut terdapat banyak mahasiswa yang kita tidak tahu apakah mereka berkenan untuk dipublikasikan atau tidak. Kecuali, jika saya hanya ingin memotret suasana bangunannya, itu diperbolehkan. Begitu pula, ketika di kelas, kebiasaan memotret materi presentasi dosen tidak terjadi di Austria, kebanyakan mereka mencatat. Karena, jika memotret, akan menyalahi privasi dosen, pertama, wajahnya, kedua, materinya. Jika materi diizinkan untuk dibagi, dosen tersebut akan bilang, materi akan dikirimkan melalui email.

Suasana perpustakaan yang tetap saya foto, tetapi berdalih bahwa muka mereka tidak terlihat jelas.

Paling tidak itu adalah tujuh keutamaan diri manusia Austria yang saya rekam selama saya tinggal enam bulan di Wina, dan dimungkinkan akan bertambah ke depannya. Keutamaan sikap ini membuat saya merasakan sebagai manusia yang dihargai dan diterima, padahal saya terlihat sangat jelas bukan warga asli Austria.

Pada dasarnya, semua keutamaan sikap ini dapat kita temukan dimana-mana termasuk di Indonesia. Hanya saja, kadarnya yang berbeda-beda. Karena, keutamaan itu saya temukan pada hampir semua warga Austria dan ada beberapa hal yang tidak saya temukan di Indonesia, seperti budaya antri, atau di beberapa negara lainnya sekitar Austria.

Setiap negara punya keunikan masing-masing terhadap keutamaan diri yang dihidupi. Hal ini, tergantung pada budaya dan norma yang berlaku di tempat tersebut. Tetapi pada dasarnya, semua manusia di dunia punya satu dasar yang sama yaitu kemanusiaan, seperti sikap menghormati, menghargai, dan kasih sayang. Karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak bisa tidak berkomunikasi dan menjalin hubungan antar sesama manusia.