Kebiasaan dan Pertanyaan yang Terjawab

Oleh Khairul Anam

Awal bulan Oktober tahun 2019, aku berangkat ke Austria dalam rangka melanjutkan studi. Sebuah pengalaman baru membentang di depan mata. Tidak hanya kehidupan kampus, tetapi juga kehidupan sosial yang berbeda dengan di Indonesia, salah satunya alat transportasi umum. Ada 3 jenis alat transportasi umum yang menjadi pilihan utama, yaitu bus, trem dan kereta. Biasanya aku memakai trem ke Kagraner Platz, kemudian pindah ke kereta menuju Karlsplatz. Jika pulang larut sampai melebihi jam terakhir trem beroperasi, aku menaiki bus malam.

Singkat kata singkat cerita, setelah dua bulan berjalan, rute di atas sudah menjadi sebuah kebiasaan yang tertanam di alam bawah sadar. Sepuluh stasiun dari Kagraner Platz ke Karlsplatz ditempuh selama 14 menit, cukup untuk membaca 3 – 5 bab novel atau 10 – 15 level Brain Out. Dilanjutkan dengan berjalan kaki ke kampus sekitar 7 menit sambil menghirup bau roti yang baru keluar dari oven di Strock, kemudian menyapa tukang penjual koran di jalan bawah tanah menuju Secession. “Good morning, have a nice day”, sebuah frasa yang selalu diucapkan. Menyenangkan sekali!

Begitu juga sebaliknya, saat pulang dari kampus, Aku berjalan kaki lagi menuju Karlsplatz dengan suasana yang berbeda. Menghirup bau tanah yang terkena hujan, melihat orang lalu lalang mengejar bis, orang memakai skuter dan sepeda juga tidak sedikit, sekali melihat salju yang jatuh perlahan dengan menahan dingin karena cuaca menurun dan berangin. Romantis!

Di awal Desember, kebiasaan yang sudah terbangun harus berubah karena cuaca yang semakin dingin. Sebisa mungkin untuk tidak lama berada di luar. Rute baru adalah opsi yang masuk akal meskipun waktu yang dibutuhkan lebih lama. Paling sedikit selisih waktunya 1 menit, waktu yang dibutuhkan untuk pindah platform dan menunggu kereta. Rute baru ini adalah dengan naik kereta dari Karlsplatz ke Museumsquartier. Cukup 1 stasiun saja. Dari Museumsquartier ke kampus hanya butuh waktu 3 menit.

Pertama kali berangkat melalui rute ini sama sekali tidak ada masalah. Semua berjalan sesuai rencana. Namun, masalah muncul saat pulang dari kampus. Kebiasaan yang sudah tertanam menuntun tangan dan mata untuk membaca setiap kali masuk ke kereta. Entah itu duduk jika ada kursi kosong maupun berdiri saja di dekat pintu. Sepuluh stasiun selama 14 menit terlintas begitu saja. Dengan tidak menghiraukan pengumuman di kereta bahwa pemberhentian selanjutnya adalah Karlsplatz, kukira itu adalah Stephanplatz, satu stasiun setelah Karlsplatz menuju Kagraner Platz. Aku diam tak beranjak sambil terus membaca. Pintu kereta ditutup kembali, sesaat kemudian tidak ada suara yang menunjukkan pemberitahuan selanjutnya, kemudian mesin kereta api juga dimatikan. Saat itu juga aku sadar bahwa aku melewati pemberhentian terakhir, yaitu Karlsplatz. What? Bingung sambil berlari menuju ke pintu kereta namun semua pintu terkunci. Di luar sepi hanya terlihat dinding-dinding bawah tanah dengan sorotan lampu yang cukup terang. Sambil berusaha menenangkan diri, aku memotret bagian-bagian gerbong kereta. Kutemukan sebuah tulisan “LW Haltepunkt” yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi “Berhenti”. Setelah beberapa menit berada dalam situasi panik, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Aku sadar bahwa itu adalah suara sopir kereta yang keluar. Si sopir melangkah perlahan ke arah belakang. Sampai di gerbong ketiga, tempatku terjebak, si sopir kaget melihatku. Dan kubalas dengan senyuman sambil mengucapkan mengucapkan “Hallo”. Alih-alih menjawab sapaanku, si sopir tadi hanya memberikan kode OK dengan tangannya. Hatiku mulai sedikit tenang karenanya. Tiga menit setelah sopir melewati gerbong 3, mesin kereta hidup kembali dan mulai berjalan ke arah Karlsplatz. Lega rasanya, tetapi malu saat keluar gerbong. Aku menunduk melewati kumpulan orang-orang yang akan naik ke dalam kereta.. Sambil menunggu kereta dari Karlsplatz menuju Kagraner Platz, pikiranku mengingat-ingat kembali pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama tinggal di Austria. Salah satunya, “Bagaimana cara kereta dalam kota berputar kea rah sebaliknya?” Kini terjawab sudah.